• SLIDER-1-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.[...]

  • SLIDER-2-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.[...]

  • SLIDER-3-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.[...]

  • SLIDER-4-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.[...]

Kamis, 19 Agustus 2010

Periodisasi Sastra Indonesia

Posted by Dimas Hartono on 13.21

Sastra Indonesia
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.

Daftar isi
1 Periodisasi
2 Pujangga Lama
2.1 Karya Sastra Pujangga Lama
2.1.1 Sejarah
2.1.2 Hikayat
2.1.3 Syair
2.1.4 Kitab agama
3 Sastra Melayu Lama
3.1 Karya Sastra Melayu Lama
4 Angkatan Balai Pustaka
4.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
5 Pujangga Baru
5.1 Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
6 Angkatan 1945
6.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
7 Angkatan 1950 - 1960-an
7.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
8 Angkatan 1966 - 1970-an
8.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
9 Angkatan 1980 - 1990-an
9.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980
10 Angkatan Reformasi
10.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
11 Angkatan 2000-an
11.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
12 Cybersastra
13 Pranala luar
14 Referensi
Periodisasi

Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
1. lisan 2. tulisan
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
Angkatan Pujangga Lama
Angkatan Sastra Melayu Lama
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Pujangga Baru
Angkatan 1945
Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan 1980 - 1990-an
Angkatan Reformasi
Angkatan 2000-an
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]


Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
Sejarah Melayu (Malay Annals)
Hikayat
Hikayat Abdullah
Hikayat Aceh
Hikayat Amir Hamzah
Hikayat Andaken Penurat
Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Djahidin
Hikayat Hang Tuah
Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat Kadirun Hikayat Kalila dan Damina
Hikayat Masydulhak
Hikayat Pandawa Jaya
Hikayat Pandja Tanderan
Hikayat Putri Djohar Manikam
Hikayat Sri Rama
Hikayat Tjendera Hasan
Tsahibul Hikayat

Syair
Syair Bidasari Syair Raja Mambang Jauhari
Syair Ken Tambuhan Syair Raja Siak


Kitab agama
Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri

Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra Melayu Lama
Robinson Crusoe (terjemahan)
Lawan-lawan Merah
Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
Kapten Flamberger (terjemahan)
Rocambole (terjemahan)
Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
Cerita Nyi Paina
Cerita Nyai Sarikem
Cerita Nyonya Kong Hong Nio Nona Leonie
Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
Cerita Rossina
Nyai Isah oleh F. Wiggers
Drama Raden Bei Surioretno
Syair Java Bank Dirampok
Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
Tambahsia
Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
Nyai Permana
Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
Merari Siregar
Azab dan Sengsara (1920)
Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
Cinta dan Hawa Nafsu
Marah Roesli
Siti Nurbaya (1922)
La Hami (1924)
Anak dan Kemenakan (1956)
Muhammad Yamin
Tanah Air (1922)
Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
Cinta yang Membawa Maut (1926)
Salah Pilih (1928)
Karena Mentua (1932)
Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
Hulubalang Raja (1934)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
Tulis Sutan Sati
Tak Disangka (1923)
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Membalas Guna (1932)
Memutuskan Pertalian (1932)
Djamaluddin Adinegoro
Darah Muda (1927)
Asmara Jaya (1928)
Abas Soetan Pamoentjak
Pertemuan (1927)
Abdul Muis
Salah Asuhan (1928)
Pertemuan Djodoh (1933)
Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1932)
Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana
Dian Tak Kunjung Padam (1932)
Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
Layar Terkembang (1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
Hamka
Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
Armijn Pane
Belenggu (1940)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1927)
Madah Kelana (1931)
Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
Kertajaya (1932)
Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1937)
Begawat Gita (1933)
Setanggi Timur (1939)
Roestam Effendi
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
Pertjikan Permenungan
Sariamin Ismail
Kalau Tak Untung (1933)
Pengaruh Keadaan (1937)
Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
Sukreni Gadis Bali (1936)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)
Fatimah Hasan Delais
Kehilangan Mestika (1935)
Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)
Karim Halim
Palawija (1944)


Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.



Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945

Chairil Anwar
Kerikil Tajam (1949)
Deru Campur Debu (1949)

Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)

Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948) Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan

Achdiat K. Mihardja
Atheis (1949)

Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)

Utuy Tatang Sontani
Suling (drama) (1948) Tambera (1949) Awal dan Mira - drama satu babak (1962)


Suman Hs.
Pertjobaan Setia (1940) Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Kasih Ta' Terlarai (1961)


Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an

Pramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947) Perburuan (1950)
Bukan Pasar Malam (1951) Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951) Cerita dari Blora (1952)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
Dua Dunia (1950) Hati jang Damai (1960)

Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950) Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956) Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950) Tanah Gersang (1964)
Jalan Tak Ada Ujung (1952) Si Djamal (1964)

Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951) Pahlawan Minahasa (1957)

Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955) Cari Muatan (1959)
Ditengah Keluarga (1956) Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Pertemuan Kembali (1961)

Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955) Hujan Panas (1964)
Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963) Kemarau (1967)

Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956) Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)


Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)

W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957) Ia Sudah Bertualang (1963)
Empat Kumpulan Sajak (1961)

Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)

Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958) Tiga Kota (1959)
Rasa Sajangé (1961)

Trisnojuwono
Angin Laut (1958) Laki-laki dan Mesiu (1951)
Dimedan Perang (1962)

Toha Mochtar
Pulang (1958) Daerah Tak Bertuan (1963)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)

Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)

Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963)

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
Taufik Ismail
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Tirani dan Benteng
Buku Tamu Musim Perjuangan
Sajak Ladang Jagung
Kenalkan
Saya Hewan
Puisi-puisi Langit
Sutardji Calzoum Bachri
O
Amuk
Kapak
Abdul Hadi WM
Meditasi (1976)
Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
Tergantung Pada Angin (1977)
Sapardi Djoko Damono
Dukamu Abadi (1969)
Mata Pisau (1974)
Goenawan Mohamad
Parikesit (1969)
Interlude (1971)
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
Seks, Sastra, dan Kita (1980)
Umar Kayam
Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Sri Sumarah dan Bawuk
Lebaran di Karet
Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
Kelir Tanpa Batas
Para Priyayi
Jalan Menikung
Danarto
Godlob
Adam Makrifat
Berhala
Nasjah Djamin
Hilanglah si Anak Hilang (1963)
Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
Putu Wijaya
Bila Malam Bertambah Malam (1971)
Telegram (1973)
Stasiun (1977)
Pabrik
Gres
Bom
Djamil Suherman
Perjalanan ke Akhirat (1962)
Manifestasi (1963)
Titis Basino
Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
Lesbian (1976)
Bukan Rumahku (1976)
Pelabuhan Hati (1978)
Pelabuhan Hati (1978)
Leon Agusta
Monumen Safari (1966)
Catatan Putih (1975)
Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
Hukla (1979)
Iwan Simatupang
Ziarah (1968)
Kering (1972)
Merahnya Merah (1968)
Keong (1975)
RT Nol/RW Nol
Tegak Lurus Dengan Langit
M.A Salmoen
Masa Bergolak (1968)
Parakitri Tahi Simbolon
Ibu (1969)
Chairul Harun
Warisan (1979)
Kuntowijoyo
Khotbah di Atas Bukit (1976)
M. Balfas
Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
Mahbub Djunaidi
Dari Hari ke Hari (1975)
Wildan Yatim
Pergolakan (1974)
Harijadi S. Hartowardojo
Perjanjian dengan Maut (1976)
Ismail Marahimin
Dan Perang Pun Usai (1979)
Wisran Hadi
Empat Orang Melayu
Jalan Lurus


Angkatan 1980 - 1990-an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980

Ahmadun Yosi Herfanda
Ladang Hijau (1980)
Sajak Penari (1990)
Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
Sembahyang Rumputan (1997)
Y.B Mangunwijaya
Burung-burung Manyar (1981)
Darman Moenir
Bako (1983)
Dendang (1988)
Budi Darma
Olenka (1983)
Rafilus (1988)
Sindhunata
Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
Arswendo Atmowiloto
Canting (1986)
Hilman Hariwijaya
Lupus - 28 novel (1986-2007)
Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
Olga Sepatu Roda (1992)
Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
Dorothea Rosa Herliany
Nyanyian Gaduh (1987)
Matahari yang Mengalir (1990)
Kepompong Sunyi (1993)
Nikah Ilalang (1995)
Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
Gustaf Rizal
Segi Empat Patah Sisi (1990)
Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
Ben (1992)
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
Remy Sylado
Ca Bau Kan (1999)
Kerudung Merah Kirmizi (2002)




Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
Widji Thukul
Puisi Pelo
Darman

Angkatan 2000-an

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.


Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
Ayu Utami
Saman (1998)
Larung (2001)
Seno Gumira Ajidarma
Atas Nama Malam
Sepotong Senja untuk Pacarku
Biola Tak Berdawai
Dewi Lestari
Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
Supernova 2.1: Akar (2002)
Supernova 2.2: Petir (2004)
Habiburrahman El Shirazy
Ayat-Ayat Cinta (2004)
Diatas Sajadah Cinta (2004)
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
Dalam Mihrab Cinta (2007)
Andrea Hirata
Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov (2008)

Cybersastra

Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya.
Referensi
1. ^ Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia 1200-2004. London: MacMillan.
2. ^ Mahayana, Maman S, Oyon Sofyan (1991). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo.
3. ^ Yudiono (2007). Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Rabu, 18 Agustus 2010

Soal Sastra Indonesia

Posted by Dimas Hartono on 15.03

S tandar Kompetensi Lulusan

Standar Kompetensi
Lulusan Kompetensi Yang Diujikan
1 2
1. Siswa mampu menentukan ciri-ciri bentuk karya sastra, dimensi drama, dan menemukan majas dalam karya sastra Ciri-ciri bentuk karya sastra, dimensi drama, dan majas dalam karya sastra.
2. Siswa mampu mengelompokkan sastrawan ke dalam suatu periode, menentukan sastra pelopor suatu periode, keunggulan karya sastra, dan kepeloporan seorang sastrawan Sastrawan dalam suatu periode, karya sastra pelopor suatu periode, keunggulan karya sastra, dan kepeloporan seorang sastrawan.
3. Siswa mampu menentukan pengertian dan macam/jenis aliran sastra dalam karya sastra Pengertian aliran sastra dan macam atau/jenis aliran sastra dalam karya sastra.
4. Siswa mampu menentukan kritik karya sastra, isi esai sastra, isi esai film, isi kritik film, dan isi resensi sastra, serta nilai-nilai dalam pertunjukan kesenian dan film Kritik karya sastra, isi esai sastra, isi esai film, isi kritik film serta nilai-nilai dalam pertunjukan kesenian dan film.
5. Siswa mampu menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra Unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra.
6. Siswa mampu menentukan pengaruh asing dan pengaruh sastra daerah dalam karya satra Indonesia Pengaruh asing dan sastra daerah dalam karya sastra Indonesia.
7. Siswa mampu membaca dan menulis teks aksara Arab Melayu Teks aksara Arab Melayu.

CONTOH SPESIFIKASI UJIAN SEKOLAH
SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH
TAHUN 2004/2005

Mata Pelajaran : Sastra Indonesia
Program Studi : Bahasa
Bentuk soal : Pilihan Ganda
Bentuk penilaian : Tertulis

Standar Kompetensi Lulusan : (1) Menentukan ciri-ciri bentuk karya sastra, dimensi drama, dan menemukan majas dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Ciri-ciri bentuk karya sastra.
Indikator : Disajikan penggalan prosa, siswa dapat menentukan salah satu ciri
karya sastra bentuk prosa.
No. Soal : 1
Bacalah kutipan berikut!
Tetapi lebih-lebih dari segala, haruslah kaum perempuan sendiri insyaf akan dirinya dan berjuang untuk mendapat penghargaan dan kedudukan yang lebih layak. Ia tiada boleh menyerahkan nasibnya kepada golongan yang lain, apalagi golongan kaum laki-laki merasakan akan kerugian, apalagi ia harus melepaskan kekuasaannya yang telah berabad-abad dipertahankannya. Kita harus membanting tulang sendiri untuk mendapat hak kita sebagai manusia. Kita harus merintis jalan untuk lahirnya perempuan yang baru yang bebas berdiri menghadapi dunia, yang berani membentangkan matanya melihat kepada siapa juapun.
S.T Alisyahbana: Layar Terkembang
Berdasarkan kutipan di atas, salah satu ciri karya sastra bentuk prosa adalah ....
a. adanya pembaitan
b. adanya petunjuk gerak
c. penggunaan paragraf
d. penggunaan rima
e. didominasi dialog

Standar Kompetensi Lulusan : (2) Mengelompokkan sastrawan ke dalam suatu periode, menentukan sastra pelopor suatu periode, keunggulan karya sastra, dan kepeloporan seorang sastrawan.
Ruang Lingkup Materi : Sastrawan ke dalam suatu periode.
Indikator : Siswa dapat mengelompokkan sastrawan ke dalam suatu periode.
No. Soal : 2
Perhatikan tabel berikut!
No. SASTRAWAN KARYA SASTRA ANGKATAN
1 Merari Siregar Azab dan Sengsara Angkatan ‘20
2 Abdul Muis Sengsara Membawa Nikmat Angkatan ‘30
3 Muhammad Yamin Sandyakala ning Majapahit Angkatan ‘45
4 Rustam Efendi Rindu Dendam Angkatan ‘66
5 Mochtar Lubis Senja di Jakarta Angkatan ‘80

Berdasarkan tabel di atas, sastrawan, karya sastra, angkatan yang tepat adalah nomor ....
a. 1 d. 4

b. 2 e. 5
c. 3

Standar Kompetensi Lulusan : (3) Menentukan pengertian dan macam/jenis aliran sastra dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Macam/jenis aliran sastra.
Indikator : Disajikan penggalan karya sastra, siswa dapat menentukan aliran
penggalan tersebut.
No. Soal : 3
Bacalah penggalan cerpen berikut!
Kasdu terus berjalan. Lepas dari perkampungan dia menapaki jalan sempit yang membelah perbukitan. Kiri kanan jalan adalah tebing dengan cadasnya yang kering renyah berbongkah-bongkah. Kala musim hujan jalan itu adalah sebuah kali yang mengalirkan air dengan deras dari puncak bukit. Air yang keruh meluncur dari atas menggerus tanah, sehingga jalan itu semakin lama semakin dalam.
Ahmad Tohari : Si Minem Beranak Bayi
Penggalan cerpen di atas dapat digolongkan ke dalam aliran ....
a. realisme
b. idealisme
c. romantisme
d. psikologisme
e. determinisme
Kunci : A

Standar Kompetensi Lulusan : (3) Menentukan pengertian dan macam/jenis aliran sastra dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Keunggulan karya sastra.
Indikator : Disajikan penggalan ulasan karya sastra, siswa dapat menentukan
keunggulan karya sastra yang diulas.
No. Soal : 4
Bacalah penggalan resensi berikut!
Novel Raumanen karya Marianne Katoppo ini pada tahun 1975 memperoleh hadiah harapan Sayembara Penulisan Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Kemudian pada tahun 1982, dinyatakan sebagai pemenang Hadiah Sastra Asia Tenggara (SEA Write Award). Para kritikus pada umumnya mengucapkan bahwa keberhasilan novel ini pada bentuk penceritaannya yang menggunakan pencerita akuan (first person narrator) dari sudut pandang (point of view) Manen dan Monang. Kedua pencerita itu kemudian mengungkapkan pikiran dan perasaannya masing-masing.
Berdasarkan penggalan ulasan di atas, keunggulan novel Raumanen terletak pada ....
a. gaya bercerita
b. sudut pandang
c. tema cerita
d. pengungkapan pikiran
e. penghargaan yang diterima
Kunci : B
Standar Kompetensi Lulusan : (4) Menentukan kritik karya sastra, isi esai sastra, isi esai film, isi kritik film, dan isi resensi sastra, serta nilai-nilai dalam pertunjukkan kesenian dan film.
Ruang Lingkup Materi : Kritik karya sastra
Indikator : Siswa dapat menentukan unsur puisi yang diungkapkan dalam
penggalan kritik puisi yang disajikan.

No. Soal : 5
Bacalah penggalan kritik sastra berikut!
Ramadhan K.H. begitu padu mendendangkan tanah kelahirannya Priangan, dalam “Priangan Si Jelita.” Ungkapan-ungkapan, lambang, pengimajinasian yang kuat, dapat mempertinggi nilai kepuitisan puisi yang sederhana ini. Kita seolah mendengar suara seruling, melihat gunung-gunung, melihat pemandangan menghijau (jamrud) dan seolah melihat gadis-gadis manis yang menghiasi desa kelahiran penyair.
Unsur-unsur puisi yang diungkapkan dalam penggalan kritik di atas adalah ....
a. latar dan lambang
b. nilai dan lambang
c. nilai dan kesederhaan
d. latar dan kesederhaan
e. diksi dan pengimajinasian
Kunci : E
Standar Kompetensi Lulusan : (5) Menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Ruang Lingkup Materi : Unsur intrinsik karya sastra
Indikator : Siswa dapat menentukan pengungkapan watak tokoh dalam
penggalan novel/cerpen.
No. Soal : 6
Contoh Soal :

Bacalah penggalan novel berikut!
Waktu taksi Eko dan Claire memasuki halaman rumah Tommi dan Jeanette, sesudah lolos melewati pintu gerbang yang kukuh berukir, mulut Claire tampak menganga. Matanya yang bundar besar-besar nampak semakin besar melihat berkeliling halaman yang luas sekali itu.
“Wow, ini istana di Amerika bagian selatan, Ko. Pantasnya di Savannah atau Georgia, begitu. Ada pohon-pohon willow segala. Ada anjing-anjing herder berkeliaran, ada kolom renang besar berbentuk jantung, dan halaman yang sehalus padang golf dan perdu-perdu yang tertata apik. Semua serba wow, Ko!”
Umar Kayam: Jalan Menikung
Watak Claire dalam penggalan novel di atas tergambar melalui ....
a. uraian pengarang
b. uraian tokoh lain
c. dialog antartokoh
d. pandangan tokoh
e. sikap tokoh
Kunci : E

Standar Kompetensi Lulusan : (5) Menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Ruang Lingkup Materi : Unsur intrinsik karya sastra
Indikator : Siswa dapat menentukan unsur ekstrinsik penggalan karya sastra
yang disajikan.
No. Soal : 7
Contoh Soal :
Bacalah penggalan novel berikut!
Dan Ndoro Seten, menurut Bapak, begitu saja menghadiahi nama kepada embok saya waktu diketahuinya Embok hamil tua. “Nanti kalau anakmu itu laki-laki, Mbok, namakan Soedarsono, “ kata Ndoro Seten. Embok saya terkejut mendengar nama itu. Menurut Embok, sesungguhnya ia ingin memberi nama Isalam (meskipun kami tidak sembahyang) seperti Ngali atau Ngusman. Bukankah nama bapak saya juga Kasan? Tetapi Bapak saya meyakinkan Embok untuk menerima saja pemberian nama itu. Embok masih bimbang, takut jangan jangan nama itu nama yang terlalu berat bagi bayi seorang anak desa. Jangan jangan jadi pendek umur anak itu nanti, begitu kekhawatiran Embok. Tetapi Bapak terus membujuk dan meyakinkan Embok bahwa kita tidak usah khawatir akan mengalami bencana itu. “Wong paringan hadiah priyayi tinggi kok dikhawatirkan, ” tutur Bapak.
Umar Kayam: Para Priyayi
Unsur ekstrinsik yang terdapat dalam penggalan novel di atas adalah masalah ....
a. sosial
b. budaya
c. politik
d. ekonomi
e. keagamaan
Kunci : B

Standar Kompetensi Lulusan : (6) Menentukan pengaruh asing dan pengaruh sastra daerah dalam karya sastra Indonesia.
Ruang Lingkup Materi : Pengaruh sastra daerah dalam karya sastra Indonesia
Indikator : Siswa dapat menentukan pengaruh daerah yang terdapat dalam
penggalan karya sastra.
No. Soal : 8
Bacalah penggalan cerita berikut!
Mbok Ranu memandang kejadian itu dengan agak mendekat serta tersenyum ingin tahu, tetapi lebih-lebih dengan dambaan yang manis walau agak ketir. Setiap anak manis selalu mengingatkannya kepada anaknya sendiri di Bawuk yang (memang Gusti Pangeran Yang Maha Memiliki, namun toh kejam juga) telah direnggut ke akhirat. Dilihatnya Mbok Noyo menggaruk-garuk dan berkata, “Inggih, inggih, baik Den Rara. Baik sekali,“ lalu menggeleng-geleng, “Tidak”
Y.B. Mangun Wijaya: Burung-Burung Mayar
Pengaruh daerah yang terdapat dalam penggalan di atas adalah berupa ....
a. diksi
b. latar
c. akur
d. penikohan
e. sudut pandang
Kunci : A

Standar Kompetensi Lulusan : (1) Menentukan ciri-ciri bentuk karya sastra, dimensi drama, dan menemukan majas dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Majas dalam karya sastra
Indikator : Siswa dapat menentukan majas yang terdapat dalam penggalan karya
sastra.
No. Soal : 9
Bacalah puisi berikut!
Rindu tanpa batas pada isi terpendam angin lintas
bisik bibir kelu
gunung berapi berbalut awan menjulang di angkasa pagi
sungai menelusuri wajah bumi kesepian hutan, lengang pertapa
Sitor Sitomorang

Standar Kompetensi Lulusan : (2) Mengelompokkan sastrawan ke dalam suatu periode, menentukan sastra pelopor suatu periode, keunggulan karya sastra, dan kepeloporan seorang sastrawan.
Ruang Lingkup Materi : Kepeloporan seorang sastrawan.
Indikator : Kepeloporan ilustrasi tentang kepeloporan sastrawan, siswa dapat
menentukan nama sastrawan yang dimaksud.
No. Soal : 10
Bacalah ilustrasi berikut!
Beberapa kritikus sastra menyebut beliau penyair terbesar sesudah Chairil Anwar. Paling tidak, beliau adalah penyair penting sejak tahun 50-an hingga sekarang. Selain sebagai seorang penyair, beliau dikenal sebagai dramawan. Beliau juga sudah memprofesikan pembaca puisi. Kumpulan puisinya antara lain “Blues untuk Bonny,” Sajak-Sajak Sepatu Tua.”
Penyair yang dimaksud dalam ilustrasi di atas adalah ....
a. Amir Hamzah
b. Sitor Situmorang
c. Taufiq Ismail
d. W. S. Rendra
e. Sutardji Qozoum Bachri
Kunci : D

Standar Kompetensi Lulusan : (4) Mengelompokkan sastrawan ke dalam suatu periode, menentukan sastra pelopor suatu periode, keunggulan karya sastra, dan kepeloporan seorang sastrawan.
Ruang Lingkup Materi : Isi resensi sastra
Indikator : Siswa dapat menentukan isi penggalan resensi sastra yang disajikan.
No. Soal : 11
Bacalah penggalan resensi berikut!
Rupanya pesan “Ayah” kepada “Aku” yang ditempatkan pada bagian akhir cerita ini merupakan pesan penting yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca. Apa yang dikatakan “Ayah” kepada “aku” boleh dikatakan cara lain untuk mengatakan, “Janganlah kamu – generasi muda – bekerja untuk Belanda sebab kelak kamu akan terpaksa melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hati nurani dan kamu akan membenarkan ketidakadilan”.
Unsur karya sastra yang diungkapkan dalam penggalan resensi di atas adalah ....
a. tema
b. amanat e. penokohan
c. alum
d. latar

Standar Kompetensi Lulusan : (1) Menentukan ciri-ciri bentuk karya sastra, dimensi drama, dan menemukan majas dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Ciri-ciri bentuk karya sastra
Indikator : Siswa dapat membedakan novel dengan cerpen.
No. Soal : 12
Jelaskan empat perbedaan novel dengan cerpen!
Pedoman Penskoran :
No Kunci Jawaban Skor
1. Empat perbedaan novel dengan cerpen:
a. Novel menggunakan alur renggang karena ada degresi, sedangkan cerpen
menggunakan alur rapat karena tidak ada degresi .
b. Perwatakan dalam novel ditampilkan dengan lengkap, sedangkan 2
perwatakan dalam cerpen ditampilkan secara singkat/sekilas .
c. Novel mengeksplorasi seluruh kehidupan manusia, terkadang ada
perubahan nasib para pelaku, sedangkan dalam cerpen hanya 2
menampilkan intisari/sebagian dari kehidupan manusia .
d. Novel tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu kali membaca, sedangkan cerpen dapat diselesaikan dalam satu kali membaca . 2
2
Skor Maksimum 8

Standar Kompetensi Lulusan : (7) Membaca dan menulis teks aksara Arab Melayu.
Ruang Lingkup Materi : Teks aksara Arab Melayu.
Indikator : Disajikan sebuah paragraf yang terdiri dari lima kalimat dalam aksara
Arab Melayu, siswa dapat mengalihkannya ke dalam aksara Latin dengan benar.
No. Soal : 13
Perhatikan teks berikut!

Salinlah teks dalam aksara Arab Melayu di atas ke dalam aksara Latin dengan benar! Pedoman Penskoran :
No Kunci Jawaban Skor
5. a. Pulang ke rumahnya dan tiadalah ia jadi memikat . 1
b. Setelah datang ke rumahnya itu maka sahut anaknya itu . 1
c. Hai, Bapakku. Mengapa pulang kembali? 1
d. Maka sahut Bapaknya itu .
d. Aku hendak pergi memikat burung bayan itu ada ia kepada pohon kayu 1
yang besar . 1
Skor Maksimum 5

Standar Kompetensi Lulusan : (1) Menentukan ciri-ciri bentuk karya sastra, dimensi drama, dan menemukan majas dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Majas dalam karya sastra
Indikator : Siswa dapat menemukan majas yang terdapat dalam karya sastra dan memberikan alasannya.

No. Soal : 14
Bacalah kutipan cerita berikut!
Kedua orang itu tersenyum dengan mulut mereka sedikit monyong sehabis percakapan itu. Di dalam BMW seri tujuh berwarna abu-abu itu Tommi menyetir sendiri. Suara Celine Dion berduet dengan Barbara Streisand keluar dari “compac disc ”-nya. “Suka suara nona-nona ini?”
“Oh, suka banget, Pak. ”
“Di luar pak-nya dibuang saja. Apalagi di mobil hanya berdua. Janji, ya?”
Endang tersenyum kemudian menjawab, “Janji ”
Waktu mobil memasuki halaman Hotel, Endang masih dengan tenang mengikuti pikirannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya di dalam hatinya ia mulai mengukur-ngukur, menghitung-hitung langkah apa yang selanjutnya akan diambil oleh Tommi.
Umar Kayam: Jalan Menikung Tentukan majas yang terdapat dalam kutipan di atas dengan menunjukkan kalimat yang menggunakan majas tersebut dan berikan alasannya!
Kunci :
Kutipan di atas mengandung majas metonimia yaitu pada kalimat “Di dalam mobil BMW seri tujuh berwarna abu-abu itu milik Tommi Tommi menyetir sendiri.” BMW adalah merek mobil.
Metonimia adalah majas yang menyebut merek dagang untuk benda yang dimaksudkan atau digunakan.
Pedoman Penskoran :
No Kunci Jawaban Skor
4. Bila menyebut majas dengan kalimat dengan benar disertai alasan yang tepat 3
Bila menyebut majas dengan kalimat dengan benar tetapi alasannya salah 2
Bila menyebut majas dengan benar tetapi kalimat dan alasan salah 1
Bila semua jawaban salah 0
Skor Maksimum 3

Standar Kompetensi Lulusan : (3) Menentukan pengertian dan macam/jenis aliran sastra dalam karya sastra.
Ruang Lingkup Materi : Macam/jenis aliran sastra.
Indikator : Disajikan penggalan karya sastra, siswa dapat menentukan aliran
penggalan karya sastra tersebut disertai alasannya.
No. Soal : 15
Bacalah kutipan cerita berikut!
Tentang celana kepar 1001 itu, tak ada yang akan diceritakan lagi. Pada suatu kali ia akan hilang dari muka bumi. Dan mungkin ia bersama-sama Kusno hilang dari muka bumi ini?
Tapi, bagaimanapun juga. Kusno tidak akan putus asa. Ia dilahirkan dalam kesengasaraan, hidup bersama kesengsaraan. Dan meskipun celana 1001-nya hilang lenyap menjadi topo, kusno akan berjuang terus melawan kesengsaraan biarpun hanya guna mendapatkan sebuah celana kepar yang lain.
Idrus: Kisah Sebuah Celana Pendek
Tentukan aliran yang terdapat dalam kutipan di atas disertai alasannya!
Kunci :Kutipan di atas digolongkan ke dalam aliran realisme karena melukiskan manusia dengan peristiwa yang dipandang sebagai kenyataan menurut apa adanya tidak menyertakan rasa simpati atau antipati dalam pelukisan karyanya.
Pedoman Penskoran :
No Kunci Jawaban Skor
2. Bila jawaban (aliran) dan alasan benar 3
Bila jawaban (aliran) benar tetapi alasannya kurang tepat 2
Bila hanya jawaban (aliran) yang benar tetapi alasan salah 1
Bila jawaban (aliran) dan alasannya salah 0
Skor Maksimum 3
LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN SOAL, PEDOMAN PENSKORAN, CARA PENSKORAN, DAN CARA PERHITUNGAN NILAI AKHIR SASTRA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH TAHUN 2004/2005

1. Lihat dan pahami standar kompetensi lulusan mata pelajaran Sastra Indonesia.
2. Tetapkan jumlah indikator di tiap-tiap kompetensi yang akan diujikan.
3. Tuliskan kompetensi yang diujikan, indikator, nomor soal, soal, dan kunci/kriteria jawaban ke dalam format spesifikasi tes.
4. Penskoran
Bentuk Soal Penskoran
Pilihan Ganda Setiap jawaban benar diberi skor 1 dan bila salah diberi skor 0.
Uraian Setiap kata kunci yang dijawab benar diberi skor 1 dan bila salah diberi skor 0.
Untuk tes praktik, setiap aspek dikerjakan dengan benar diberi skor 1 dan bila salah atau tidak dikerjakan diberi skor 0.
. Cara Perhitungan Nilai Akhir
a. Nilai Tes Tertulis
Misal Aris memperoleh skor seperti tertera pada kolom skor perolehan.
Bentuk Soal Jumlah
Soal Nomor
Soal Skor
Maksimum Skor
Perolehan
Pilihan Ganda 40 1 – 40 40 32

Bentuk Soal Jumlah
Soal Nomor
Soal Skor
Maksimum Skor
Perolehan
Uraian 5 1 8 7
2 4 2
3 4 3
4 4 2
5 10 9
Jumlah 30 23
Nilai pilihan ganda = 40 x10 = 8,00
Nilai uraian = 30 x10 = 7,67
Q Perbandingan bobot untuk soal pilihan ganda dan uraian adalah 7 : 3. Nilai akhir = (75% x Nilai pilihan ganda) + (30% x Nilai uraian)
= (70% x 8,00) + (30%) x 7,67)
= 5,60 + 2,30
= 7,90

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site